The Unloved
Mataku menatap sosok itu, sosok yang terbaring lemah tak berdaya. Matanya tertutup, tampak tertidur pulas walaupun bau obat ada di mana-mana. Di sampingnya terdapat selang infus yang menempel di tangannya. Kuperhatikan wajahnya, wajah yang sama persis dengan wajahku. Kembaranku. Yang sekarang kedua matanya tak lagi dapat melihat cahaya, melihat dunia, melihatku…
Beberapa hari lalu dia mengalami kecelakaan yang cukup parah. Sebuah mobil yang berlawanan arah melaju kencang dan menabrak mobilnya. Si penabrak terluka parah, salah satu lengannya remuk dan kaki kanannya patah. Sedangkan Callista, kembaranku, untungnya tidak mengalami patah tulang yang serius tapi kedua matanya terkena pecahan kaca mobil.
Semua orang merasa terpukul dengan kejadian itu. Orang tuaku, kakakku, teman-temannya dan semua orang yang mengenalnya. Yah, termasuk aku.
Tapi... ada rasa senang yang menyeruak dalam diriku saat melihatnya tergeletak lemah di kasur rumah sakit seperti sekarang ini. Aku menyayanginya, sangat menyayanginya. Kami saling membutuhkan. Tapi jauh dalam hatiku, dalam sudut gelap hatiku, aku membencinya. Rasa iri yang kubendung sejak kecil sudah tumbuh menjadi benci.
Aku tahu dia lebih baik daripadaku, lebih segala-galanya daripadaku. Dia berbakat, pintar dan segalanya. Keramahan dan keceriaannya membuat semua orang menyukainya. Sedangkan aku hanya gadis pendiam yang aneh yang tidak mempunyai teman sama sekali. Begitulah orang memandangku.
Tapi aku tidak peduli dengan semua itu. Yang membuatku iri padanya adalah kasih sayang kedua orang tuaku yang lebih besar padanya, kasih sayang yang tak pernah kurasakan. Aku tahu dia memang pantas mendapatkannya. Tapi apa aku tidak boleh mendapatkannya juga? Hanya sedikit saja... sedikit saja... Aku ingin merasakannya juga.
“
“Eh, iya.” jawabku, terjaga dari lamunan bodohku. “Kok tau kalau ini aku?”
Dia tersenyum. “Jelas aku tau dong! Kamu kan kembaran aku, jadi aku bisa ngerasaain kalau itu kamu.“ jawabnya. “Aku emang buta sekarang, tapi aku bisa dengan mudah tau kalau itu kamu.“ tambahnya sambil tertawa.
“Iya, iya, aku tau.“ kataku sambil tersenyum. Tapi aku juga sedih melihatnya. Dia pasti tadi berusaha keras tertawa setelah mengucapkan kalimat terakhirnya itu, mencoba menghiburku bahwa dia baik-baik saja. Tapi aku sangat mengenalnya, aku tahu hatinya sangat sedih saat ini.
“Call, jangan paksain diri kamu buat tersenyum kalau kamu lagi nggak pengen tersenyum. Keluarin semua perasaan sedih kamu. Kalau kamu pengen nangis, nangis aja, aku bakal tetep nemenin kamu kok.“ ujarku memecahkan keheningan.
“Tumben kamu ngomong banyak? Biasanya kan kamu kalau ngomong cuma seipet-seipet. Nara yang dingin ternyata bisa juga ya ngomong panjang gitu?“ ledeknya.
“Biarin.”
Dia tertawa, tapi lalu menunduk. Tubuhnya gemetar, wajahnya tertutup rambut hitamnya yang panjang. Aku tahu betul dia sedang menangis, menangis tanpa suara. Aku lalu membelai rambutnya dengan lembut.
Aku memang amat membencinya, tapi aku juga sangat menyayanginya.
***
Dengan segelas air dingin di tanganku, aku berjalan lambat-lambat menuju kamarku. Nanti sore aku akan kembali ke rumah sakit lagi, menjenguk Callista. Sekarang Kak Kevin, kakak laki-lakiku, menjaganya di
Aku tersenyum mengingat Kak Kevin. Dialah orang yang paling dekat denganku. Orang yang paling kusayang, daripada Callista. Hanya bersama Kak Kevinlah aku bisa menjadi diriku sendiri, bukan Nara yang dingin, aneh, dan pendiam seperti yang dikenal orang lain. Mungkin dialah satu-satunya orang yang menyayangiku, dan aku sangat berterimakasih padanya karena bersedia ’menyayangiku’.
“Mama nggak sanggup lihat Callista kayak gini terus, Pa.“
Aku menghentikan langkahku tepat di depan pintu kamar kedua orang tuaku. Suara ibuku seperti menangis.
“Mama sabar, ya.“ suara ayahku terdengar seperti menenangkan ibuku. “Kita pasti akan segera menemukan pendonor kornea buat Callista.“
“Tapi kapan, Pa? Sampai sekarang belum ada donor kornea buat anak kita.“ sahut Mama, masih menangis. “Mama nggak tega melihat Callista begini terus. Gimana kalau sampai dia tua tetap buta seperti itu?“
“Mama yang tabah, kita harus terus berdoa supaya ada donor kornea buat anak kita. Papa sebenarnya juga sedih melihat keadaan Callista, tapi kita harus optimis dan terus mendoakannya.”
“
Aku tersenyum mendengar semua itu, senyum pahit. Aku mulai berpikir, bagaimana jika aku ada di posisi Callista sekarang ini? Apa mereka juga akan menangis seperti itu untukku? Apa mereka juga akan menyebutku ’anak kita’ dengan penuh kasih sayang seperti tadi?
Hahaha...
Aku tertawa dalam hati. Jelas tidak mungkin. Itu pasti tidak akan terjadi.
Aku lalu mulai berjalan menuju kamarku, tempat dimana aku bisa bersembunyi dari orang lain, tempat dimana aku bisa mengeluarkan semua kepedihanku. Saat sudah sampai di kamarku, aku duduk di meja belajar. Mengambil buku dan menyobek secarik kertas lalu mulai menulis. Menuangkan semua perasaanku.
***
“Nah Callista, sekarang kamu boleh buka kedua mata kamu.” ujar dokter yang selama ini merawatnya.
Dengan perlahan dan sedikit takut, dia mulai membuka kedua matanya yang akhir-akhir ini tidak bisa melihat cahaya. Dia juga menghitung dalam hati sampai matanya terbuka.
Satu.
Dua.
Tiga.
Cahaya yang selama ini dirindukannya, sekarang terlihat lagi. Samar-samar dia bisa melihat orang-orang yang mengelilinginya. Semakin lama sosok mereka semakin jelas dan terlihat.
Mamanya, Papanya, Kak Kevin maupun dokter dan juga suster, semuanya terlihat jelas. Dia bisa melihat lagi!!
Callista ingin sekali berteriak saking senangnya. Akhirnya dia bisa melihat lagi, tidak terjebak di dalam kegelapan lagi. Dia sangat bersyukur karena akhirnya dia mendapatkan donor kornea. Terimakasih Tuhan…
“Ma, Pa?“ panggilnya dengan semangat, dia tidak bisa menahan kegembiraannya saat ini. “Callista bisa ngeliat lagi! Callista seneng banget, Ma, Pa. Akhirnya Callista bisa lihat Mama sama Papa lagi.“
Kedua orang tuanya tersenyum bahagia, begitu juga dokter dan suster. Tapi saat mata Callista berhenti ke arah kakaknya, wajah kakaknya terlihat datar bahkan nyaris dingin.
“Kak Kevin, Callista sekarang bisa ngeliat lagi.“ ujarnya sambil tersenyum.
Kak Kevin tersenyum, tapi senyumnya terlihat terlalu dipaksakan. “Ya, selamat kamu bisa ngeliat lagi.“
Callista bingung dengan sikap kakaknya, kenapa dia terlihat tidak terlalu senang hari ini? Apa dia sedang mempunyai masalah?
Ah, Callista tidak tahu, nanti saja menanyakannya pada Kak Kevin. Saat ini dia ingin sekali melihat kembarannya. Dia melihat sekelilingnya, tapi tidak ada Nara di sana.
“Lho, Nara masih ada di Solo? Kok dia nggak ke sini hari ini?“ tanyanya. Kata kedua orang tuanya, beberapa hari ini Nara pergi ke Solo mengunjungi kakek-nenek.
“Eh, Nara... Nara...“ Papa terlihat bingung menjawabnya.
“Dia belum pulang?“ tebak Callista. “Kok dia belum pulang, sih? Kan hari ini hari yang paling berharga buat Callista. Kenapa dia nggak ke sini?“
Tiba-tiba Kak Kevin keluar sambil membuka pintu dengan kasar. Callista kaget, apa dia salah omong tadi?
“Ma, Kak Kevin kenapa?” tanyanya.
Tapi ibunya tidak menjawab, lalu menutup mulutnya dan mulai menangis. Callista benar-benar bingung. Kenapa semuanya begitu aneh? Ada apa sebenarnya ini?
“Pa, tolong jelasin ke Callista ada apa sebenarnya ini.“ pinta Callista. Entah kenapa perasaannya terasa tidak enak.
“Callista,
“Me…meninggal?”
Papanya mengangguk sedih. “Dia sudah tidak ada.”
Tubuh Callista gemetar, airmatanya mulai menetes. “Kenapa?” tanya. Kenapa Nara begitu cepat meninggalkannya? Tidak! Ini pasti mimpi.
“
Callista tersentak. Tubuhnya terasa membeku di tempat, airmatanya semakin mengalir deras. “Ja-jadi...i-ini...Nara...?“ tanyanya terbata, tangannya menyentuh kedua matanya itu.
Papa mengangguk sedih. Mama menghambur memeluk Callista, menagis semakin keras. Callista hanya diam, menangis tanpa suara.
***
Callista berjalan menuju tempat Nara berbaring sekarang. Di sampingnya, Mama merangkul pundaknya dan berjalan bersama. Papa mengikuti di belakang mereka. Hari ini Callista meminta kedua orang tuanya untuk mengantarnya ke makam
Di dekat makam Nara, Kak Kevin berdiri menatap makam itu. Dia membalikkan badan saat tahu mereka datang. Dia tidak mengucapkan apapun, hanya memandang mereka hampa.
Callista lalu mendekat ke makam itu dan duduk sambil membelai nisannya. Di sana terukir nama saudaranya,“Cynara Ardhani“. “Nara, kenapa kamu pergi secepat ini? Kenapa? Kenapa kamu ninggalin aku?“ tanyanya sambil menatap makam di depannya itu. Airmatanya mulai mengalir tanpa bisa ditahannya. “
“Mungkin Kevin harus ngasih
Papa lalu menerima kertas itu. Membukanya dan mulai membacanya. Mama juga ikut membaca. Setelah beberapa detik membacanya, Mama menangis lagi. Papa juga terlihat terpukul, wajahnya sangat sedih seperti menyesali sesuatu.
“Maafin Mama, Nara… Maafin Mama… Mama juga sayang sama Nara, maafin Mama kalau selama ini bersikap seperti itu ke Nara.“ kata Mama di tengah isak tangisnya.
Papa merangkul istri tercintanya itu. “Papa juga menyesal, Papa juga sayang
“Pa, Callista pinjam kertas itu.” Callista menjulurkan tangannya, ayahnya memberikan kertas itu padanya. Callista melihat kertas itu, tulisan
Aku tahu aku tak bisa menandinginya. Tak bisa menjadi sepertinya.
Karena kutahu aku tak lebih baik darinya.
Tapi aku hanya ingin kasih sayang, merasakannya walaupun sedikit saja.
Aku ingin merasakan pelukan hangat dari Mama.
Aku ingin mendengarkan pujian bangga dari Papa.
Aku ingin merasakan semua itu. Merasakan sesuatu yang tak pernah kurasakan selama ini.
Apakah itu salah?
Kenapa selalu dia yang mendapatkan itu? Kenapa aku tidak?
Aku tahu aku berbeda dengannya.
Tapi apa aku tidak boleh merasakan sedikit saja kasih sayang orang tua?
Apakah aku memang tidak berhak mendapatkan itu?
Akhirnya Callista tahu perasaan yang dipendam Nara. Kepedihan yang lama dirasakannya sendirian. Callista merasa muak pada dirinya sendiri, dia yang membuat Nara merasakan perasaan sakit ini. Dia yang sudah memonopoli kasih sayang kedua oang tuanya. “Nara…maafin aku.” ujarnya lirih.
“Sekarang cuma ada kata menyesal, cuma ada kata maaf yang terlambat.” ujar Kak Kevin. “Dan itu semua nggak bisa mengembalikan Nara ke sini. Tapi Kevin tau betul, yang Nara pengen sekarang, seandainya dia masih ada, adalah melihat kalian semua bahagia. Jadi, Kevin mohon, jangan buat
Callista mengangguk. Mulai sekarang dia akan hidup lebih baik lagi dengan mata ini. Melihat masa depan, melihat dunia ini untuk
Hidup untuk bagian
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar