Miss Orange Duck
Seorang gadis yang jatuh cinta pada Super Junior dan B1A4 :)
Sabtu, 23 Oktober 2010
"Kegiatan Tengah Semester" Tapel 2010/2011
Fiuuh, capek.. Tapi menyenangkan sekalee..
:)
Pemenang-pemenang lomba juga sudah ada, walaupun ada lomba yang belum diumumkan siapa pemenangnya.. Seperti lomba video klip dan lomba kebersihan.
Kemarin kelas yang menyabet juara lomba Futsal adalah IPA 4, jeng.. jeng, jeeeeng...
Pemenang lomba sambung lagu diraih oleh XII IPA 2..
XII IPA 1 juga dapat juara ke-2 di lomba sambung lagu.. Senangnya.. :)
Kelas XII IPA 1, my sweet class (hohoho... ;D), sudah berjuang selama KTS..
Semoga apa yang sudah kami lakukan membuahkan hasil yang baik di lomba yang tersisa..
Amiin..
Hidup para Belatung..!
:)
Die Nationalmannschaft
Tapi ga' sampai "tawuran" kalau mereka kalah kok. Ga' seperti suporter di negeri kita tercinta ini.
Bisa dibilang, dari timnas Jerman aku "tahu" dan lebih mengenal tentang sepak bola, "olahraga nomor 1 di dunia".
Yah, walaupun aku belum pernah lihat mereka mengankat trophy Piala Dunia atau Euro, tapi semoga tahun 2012 n' 2014 aku bisa lihat mereka mengangkat trophy itu.
Amiin, ya Allah.. hehe..
:)
Hidup der Panser..!! :D
Ini adalah para pemain timnas Jerman:
Ket:
-->dari kiri bawah: Trochowski, Marin, Lahm, Butt, Neuer, Weise, Kroos, Ozil, Cacau
-->dari kiri tengah: Bierhoff, Kopke, Friedrich, Schweinsteiger, Aogo, Klose, Podolski, Flick, Loew
-->dari kiri atas: Tasci, Muller, Gomez, Badstuber, Mestesacker, Kiessling, Jansen, Boateng, Khedira
Rabu, 18 Agustus 2010
Can’t be Without You
Pikiranku tak hentinya mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku itu terpampang jelas di depan kedua mataku. Aku hanya bisa berdiri kaku melihat semua itu terjadi tanpa bisa melakukan apa-apa. Hanya menangis tanpa sedikit pun bisa mencegahnya. Rasanya menyakitkan sekali saat kejadian itu membayangiku. Setiap kali aku berusaha melupakannya, semakin jelas bayangan itu menghantuiku.
“Bunda... Papa...“ ucapku lirih sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
Orang bilang jika orang baik meninggal, mereka akan berubah menjadi bintang yang bersinar terang di langit. Dulu aku tak percaya semua itu, dan sekarang pun aku tahu itu hanya takhayul belaka. Tapi sejak kematian orang tuaku, setiap malam kupandangi bintang di langit, berusaha menemukan sosok Bunda dan Papa di sana. Aku tahu aku konyol, tapi aku hanya ingin berada di dekat mereka.
Kubiarkan airmata jatuh mengalir di kedua pipiku. Menangis di temani angin malam yang dingin.
“Kamu nangis?“ tanya suara seseorang tiba-tiba.
Aku mendongak, melihat orang itu. Cowok itu berperawakan tinggi, dan dari wajahnya sepertinya dia berasal dari Jepang atau Korea. Dia memandangku hati-hati.
“Kamu nangis?” tanyanya lagi.
Kuhapus airmataku cepat-cepat lalu menggelengkan kepala.
“Bohong.” ujarnya. “Jelas-jelas tadi aku lihat kamu nangis. Tuh airmata kamu masih kelihatan!“ tambahnya sambil menunjuk wajahku.
Aku lalu menunduk dan menghapus airmataku lagi.
Cowok itu tiba-tiba duduk di sampingku dan mengulurkan tangannya. “Aku Kyo Kaname, pindahan dari Jepang. Aku tinggal di dekat sini. Kamu juga tinggal di sini?“
Aku mengangguk tanpa membalas uluran tangannya. Tapi tangannya lalu meraih tanganku.
“Aku Kyo. Nama kamu siapa?” tanyanya.
“Trista.” jawabku pelan.
Cowok itu mengangguk. “Kamu pasti heran kenapa aku bisa lancar berbahasa Indonesia, kan?“
Aku mengangguk.
Dia tertawa renyah. “Aku blasteran Indonesia-Jepang. Ayahku dari Jepang dan ibuku dari Indonesia. Dari kecil ibuku juga mengajarkan aku berbahasa Indonesia juga, jadi aku mahir berbahasa Indonesia.“
“Oh...“
“Aku sudah cerita tentang diriku. Sekarang giliran kamu yang cerita.“ ujarnya. “Mm, kenapa kamu nangis?“
Aku terdiam lagi. Sedikit ragu akan bercerita pada cowok itu atau tidak. “Ee… aku…”
“Ya?”
Kulirik cowok di sampingku itu. Dia menatapku dengan seksama, menungguku berbicara. Aku lalu menceritakan semuanya padanya. Entah kenapa setiap kata yang kuucapkan keluar dengan lancar dari mulutku saat berbicara dengannya. Wajahnya juga terlihat serius mendengarkanku. Aku merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama. Aku heran dengan diriku sendiri mengapa aku bisa dengan mudah membicarakan tentang kehidupanku pada cowok ini. Padahal selama ini aku adalah sosok yang tertutup dengan orang lain, terutama dengan orang asing.
“I’m sorry.“ ujarnya setelah aku selesai bercerita. “Aku turut berduka cita.”
Aku tersenyum lemah. “Makasih.“
Tiba-tiba kedua tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya, membuatku sedikit tersentak. Tapi genggamannya terasa begitu hangat, aku merasa sangat nyaman saat tangan itu memegang tanganku.
“Pasti ini berat buat kamu, ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat kamu sayang.“ ujarnya menatapku sambil tetap menggenggam tanganku. “Tapi kamu pasti bisa melewati semua ini. Karena kamu nggak sendirian, pasti masih banyak yang sayang sama kamu dan peduli sama kamu. Kamu nggak perlu sedih terus-menerus. Aku yakin orang tua kamu juga pasti sedih kalau lihat kamu nangis terus.“
Aku menatap matanya yang balas menatapku. Bagaimana bisa perasaanku menjadi tenang saat mendengarnya berbicara? Kenapa kata-katanya yang begitu sederhana bisa membuatku merasa lebih ringan? Beban yang ada di hatiku seperti melayang jauh dari dalam diriku. “Mu...mungkin kamu benar... Makasih.“ ucapku sambil tersenyum.
“Aku juga akan ada saat kamu butuh seseorang di samping kamu.“ ujarnya lembut. “Mm, mungkin agak konyol bilang seperti itu padahal kita baru pertama kali bertemu.“ gumamnya.
Aku tertawa mendengar gumamannya. Tapi kata-katanya itu sangat menenangkanku. “Makasih.“ balasku dengan tulus.
Dia lalu tersenyum padaku, senyum lembut yang akan selalu menemaniku di tengah kesepianku.
***
Aku teringat kembali kejadian tiga tahun lalu, di malam pertama kali aku bertemu dengannya di bawah pohon akasia di samping rumahku. Malam di mana dia datang di tengah kesunyian yang kurasakan dan menggenggam tanganku dengan hangat. Mengusir semua kesedihanku.
Masih sangat kuingat saat dia mengatakan akan selalu ada untukku. Dan selama tiga tahun terakhir ini, dia selalu ada untukku, selalu ada di sampingku. Menggenggam erat tanganku. Menjagaku dan melindungiku. Berkatnya aku keluar dari kesepian yang mengekangku.
Dan aku tahu satu hal yang sangat penting.
Aku menyayanginya. Sangat menyayanginya.
Tapi dia lalu menghilang, meninggalkanku tanpa memberitahuku ke mana dia pergi. Meninggalkanku terperangkap di tengah kesepianku lagi.
Sudah beberapa minggu dia hilang tanpa kabar apapun. Saat aku datang ke rumahnya yang berada tidak terlalu jauh dari rumahku, dia tidak ada di sana. Bahkan keluarganya pun juga tidak ada. Aku juga sudah mencarinya ke mana-mana, tapi aku tak kunjung menemukannya. Setiap aku berusaha menghubunginya, tetap saja tidak ada hasilnya. Aku tidak tahu lagi harus mencarinya ke mana lagi.
Rasanya sakit sekali setiap pikiran bahwa aku kehilangan orang yang kusayangi lagi terlintas di otakku. Aku tidak mau itu terjadi lagi. Aku tidak mau kehilangan Kyo. Mungkin aku tidak sanggup untuk kehilangannya. Dia sudah seperti bagian dari hidupku. Tapi kini bagian itu telah hilang.
“Trista.“ panggil seseorang di belakangku, suara kakekku. Sejak kematian kedua orangtuaku, kakek dan nenekku tinggal di sini bersamaku.
Aku menutup album yang penuh dengan foto Kyo dan menoleh. “Ya, Kek?“
Kakek masuk ke kamarku, menghampiriku yang duduk di dekat jendela. “Kamu lagi ngapain? Kenapa nggak ke bawah? Nenek buatin kue kesukaan kamu lho.“
Aku tersenyum. “Nggak ngapa-ngapain kok, Kek. Trista cuma duduk-duduk santai aja.“ jawabku.
Kakek melihat album foto yang kupegang. “Udah dapat kabar dari Kyo?“ tanyanya. Karena Kyo selalu datang ke rumahku, kakek dan nenekku akrab dengannya.
Aku menggeleng. “Belum.“
“Trista, kakek tau masalah ini membuat kamu sedih. Tapi jangan buat diri kamu seperti ini karena hal ini. Kamu seperti orang linglung, sering berdiam diri seperti waktu kejadian tiga tahun lalu. Kakek sama nenek cemas lihat kamu kayak gini.“ ujar Kakek khawatir.
Aku tahu aku sudah membuat kakek dan nenek cemas. Tapi aku tak tahu harus bagaimana.
“Pasti Kyo akan kembali lagi. Dia sayang sekali sama kamu, dan kamu harus yakin kalau dia pasti kembali.“
Aku memalingkan wajahku ke jendela di samping kiriku. Aku ingin sekali percaya seperti apa yang dikatakan Kakek, tapi aku sulit mempercayainya sepenuhnya. “Semoga aja begitu.“ jawabku, berharap itu akan terjadi.
Kakek lalu keluar dan menuju ke bawah. Aku membuka kembali album itu, melihat wajah-wajah Kyo. Membelai fotonya dengan lembut. Mengenang hari-hari saat kami bersama.
Apa dia tahu kalau aku sangat merindukannya? Apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku?
Entahlah...
***
“Nenek pergi ke toilet sebentar, ya! Kamu tunggu di sini.“ perintah nenek.
“Ya, Nek.“
Nenek berjalan meninggalkanku di sini. Kupandangi punggungnya yang semakin menjauh. Lalu beralih melihat sekelilingku. Begitu banyak orang yang datang ke mal ini, mereka berjalan hilir mudik tanpa lelah. Mataku menyusuri sekeliling. Dan tepat saat itu juga pandanganku tertumbuk pada sosok itu. Sosok yang begitu kukenal.
Kyo.
Ya. Itu pasti dia. Berdiri cukup jauh dariku di ekskalator yang menuju ke lantai dasar.
Tanpa memikirkan apa pun juga, aku langsung berlari ke arahnya. Berlari secepat yang aku bisa sampai aku bisa meraihnya lagi.
“Kyo!“ teriakku memanggilnya tapi dia tidak menoleh. “Kyo! Berhenti! Berhenti!”
Aku terus berlari mengejarnya. Berteriak memanggilnya, tapi dia tetap tidak mendengarku. “Kyo!“ panggilku lagi. Sampai di ekskalator yang tadi, dan menuruninya.
Kyo sudah ada cukup jauh di bawah. Saat aku sampai di dasar lantai, aku mulai berlari lagi. Berkali-kali menabrak orang, tapi aku tetap berlari dan tidak memedulikan lainnya.
“Kyo!“ teriakku lagi, tapi dia tidak mendengarku.
Bruuk!!
Aku terjatuh membentur lantai yang sangat keras itu. Bisa kurasakan lututku terluka karena terlalu kencangnya aku berlari. Semua orang memandangku heran. Tapi aku tidak peduli. Yang ada di otakku saat ini hanya Kyo.
Aku berusaha berdiri, tidak memedulikan rasa nyeri di lututku. Kucoba berlari tapi terjatuh lagi. Saat aku berdiri lagi dan mencari sosok Kyo, dia sudah tidak ada. Dia lenyap lagi. Aku tidak berhasil meraihnya.
“Kyo... Kyo.... Kyo....“ airmataku menetes tanpa bisa kutahan.
Aku kehilangannya lagi... Kehilangannya lagi...
“Kyo....“ isakku.
***
Kulangkahkan kakiku menuju pohon akasia di samping rumahku. Aku ingin melihat bintang malam ini, mungkin saja itu bisa sedikit menenangkan hatiku.
Saat aku tiba di sana, aku melihat seseorang duduk bersandar di bawah pohon. Perlahan aku mulai mendekatinya, seperti ada tarikan untuk melihatnya. Dan sosok itu terlihat lagi olehku. Sosok yang kurindukan...sosoknya...ada di sana.
“K...kyo?“ panggilku.
Sosok itu menoleh ke arahku. Wajahnya sedikit tampak letih, seperti ada beban yang dipikulnya. Dia tersenyum lemah padaku. “Trista...“
Tubuhku gemetar mendengar suaranya lagi. Suara yang kurindukan kini terdengar lagi. Aku mencoba maju, melangkahkan kakiku ke arahnya.
Dia lalu bangkit dari duduknya dan kami berdiri berhadapan.
“Kyo? Ini benar Kyo?“ tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
Dia mengangguk. “Aku pulang.“ balasnya sambil tersenyum.
Tubuhku semakin gemetar, airmataku mulai mengalir. Kututup mulutku, berusaha menahan tangisku. Tapi itu malah semakin membuat tubuhku gemetar.
“Trista...“
“Kenapa menghilang? Kenapa?“ tuntutku di tengah isak tangisku yang tertahan.
“Aku...“
“Kenapa kamu pergi? Apa kamu tau gimana perasaanku waktu kamu menghilang?“ tanyaku.
“Trista, maaf...“ ujarnya, tangannya berusaha meraih tanganku tapi aku mengelaknya.
“Aku takut kehilangan kamu lagi... Aku takut...“ isakku lirih. “Aku... Aku nggak mau lagi kehilangan orang yang kusayang lagi...“
“Maaf... Maaf...“ ujarnya sambil menunduk. “Aku pergi tanpa bilang apa pun ke kamu karena... karena aku belum siap bilang semuanya ke kamu. Aku belum siap.“
“Apa maksud kamu?“
Dia menatap wajahku lekat-lekat. “Aku dikirim ayahku ke Jepang untuk tinggal di sana dengan kakek-nenekku.“
“Kenapa?“
Dia menghela napasnya. “Kedua orangtuaku bercerai.“
Aku tersentak mendengarnya. Kutatap wajahnya, dagunya mengeras dan tangannya mengepal. “Cerai?“
Dia mengangguk kaku. Raut wajahnya mengeras, tapi matanya terlihat hampa.
“Kenapa kamu nggak bilang ke aku?“ tanyaku. Aku bingung padanya, kenapa dia tidak bercerita tentang ini semua padaku? Apa ini yang dimaksudnya “belum siap“ tadi? Tapi kenapa?
“Waktu itu aku belum siap cerita ini ke kamu. Maafin aku...“
“Kyo...“
“Orangtuaku sekarang sedang dalam proses perceraian. Ayahku mengirimku ke Jepang untuk tinggal di sana, tapi sekarang aku putuskan buat kembali ke sini. Sebenarnya aku pengen bilang ke kamu dari waktu itu, tapi aku belum siap. Aku belum siap dengan semua keadaan ini. Jujur, aku belum siap lihat keluargaku harus terpecah seperti ini.“ ceritanya, kedua tangannya masih tetap mengepal. Wajahnya seperti berusaha keras menahan kepedihannya.
Hatiku terasa pedih melihatnya seperti ini, melihatnya menahan kesedihannya sendiri. Aku meraih kedua tangannya yang mengepal dan menggenggamnya, sama seperti yang dilakukannya padaku saat pertama kali bertemu. “Kyo, kamu tau aku pasti akan selalu ngedengerin semua kesedihan kamu. Jadi tolong jangan simpan masalah kamu sendiri, jangan menahan semua ini sendirian. Aku nggak mau ngelihat kamu menanggung perasaan sakit ini sendirian.“ ujarku. “Mungkin ini berat buat kamu, tapi mungkin ini yang terbaik buat orangtua kamu. Dan kamu jangan berpikir dengan adanya perceraian ini kamu kehilangan keluarga kamu. Mereka tetap jadi orangtua kamu yang sayang sama kamu, dan mereka tetap keluarga kamu. Kamu nggak akan sendirian.“
Dia mengangguk dan menatapku. “Makasih.“
Aku semakin menggenggam tangan dengan erat dan membalas tatapannya. “Kamu masih ingat waktu pertama kali kita ketemu? Waktu itu kamu bilang kamu akan selalu ada buat aku. Aku juga akan selalu ada buat kamu, menggenggam tangan kamu dan tersenyum buat kamu.“
Salah satu tangannya memegang pipiku dengan lembut, tangan satunya masih dalam genggamanku. “Aku bersyukur bisa ketemu sama kamu.“ ujarnya sambil tersenyum. “Makasih buat semuanya.“
“Aku yang harus berterimakasih sama kamu karena selama ini kamulah yang selalu ada buat aku. Karena kamu, aku bisa tersenyum dan nggak kesepian lagi.“ ucapku. Aku juga sangat bersyukur karena dia hadir dalam hidupku dan meraih tanganku, mengeluarkanku dari mimpi burukku.
“Aku sayang sama kamu, sayang banget...“
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. “Aku juga.“
Mulai dari detik ini, aku akan selalu ada untuknya, begitupun sebaliknya. Tanganku akan selalu menggenggamnya. Bersama-sama bergandengan tangan dan menghadapi hari esok yang terbentang luas.
Hanya bersamanya...
***
Sabtu, 01 Mei 2010
Yah, mga aj mereka berdua berhasil dpt wildcard, n' kembali masuk indonesian idol 2010..!!
Buat masyarakat Indonesia, buka mata..buka telinga..!!
Jgn pilih dari tampangnya atw dari penampilannya doank..!!!
Tapi pilih yg emang bner2 berkualitas dari vokal suaranya!!
Ok??!
Sabtu, 24 April 2010
The Unloved
The Unloved
Mataku menatap sosok itu, sosok yang terbaring lemah tak berdaya. Matanya tertutup, tampak tertidur pulas walaupun bau obat ada di mana-mana. Di sampingnya terdapat selang infus yang menempel di tangannya. Kuperhatikan wajahnya, wajah yang sama persis dengan wajahku. Kembaranku. Yang sekarang kedua matanya tak lagi dapat melihat cahaya, melihat dunia, melihatku…
Beberapa hari lalu dia mengalami kecelakaan yang cukup parah. Sebuah mobil yang berlawanan arah melaju kencang dan menabrak mobilnya. Si penabrak terluka parah, salah satu lengannya remuk dan kaki kanannya patah. Sedangkan Callista, kembaranku, untungnya tidak mengalami patah tulang yang serius tapi kedua matanya terkena pecahan kaca mobil.
Semua orang merasa terpukul dengan kejadian itu. Orang tuaku, kakakku, teman-temannya dan semua orang yang mengenalnya. Yah, termasuk aku.
Tapi... ada rasa senang yang menyeruak dalam diriku saat melihatnya tergeletak lemah di kasur rumah sakit seperti sekarang ini. Aku menyayanginya, sangat menyayanginya. Kami saling membutuhkan. Tapi jauh dalam hatiku, dalam sudut gelap hatiku, aku membencinya. Rasa iri yang kubendung sejak kecil sudah tumbuh menjadi benci.
Aku tahu dia lebih baik daripadaku, lebih segala-galanya daripadaku. Dia berbakat, pintar dan segalanya. Keramahan dan keceriaannya membuat semua orang menyukainya. Sedangkan aku hanya gadis pendiam yang aneh yang tidak mempunyai teman sama sekali. Begitulah orang memandangku.
Tapi aku tidak peduli dengan semua itu. Yang membuatku iri padanya adalah kasih sayang kedua orang tuaku yang lebih besar padanya, kasih sayang yang tak pernah kurasakan. Aku tahu dia memang pantas mendapatkannya. Tapi apa aku tidak boleh mendapatkannya juga? Hanya sedikit saja... sedikit saja... Aku ingin merasakannya juga.
“
“Eh, iya.” jawabku, terjaga dari lamunan bodohku. “Kok tau kalau ini aku?”
Dia tersenyum. “Jelas aku tau dong! Kamu kan kembaran aku, jadi aku bisa ngerasaain kalau itu kamu.“ jawabnya. “Aku emang buta sekarang, tapi aku bisa dengan mudah tau kalau itu kamu.“ tambahnya sambil tertawa.
“Iya, iya, aku tau.“ kataku sambil tersenyum. Tapi aku juga sedih melihatnya. Dia pasti tadi berusaha keras tertawa setelah mengucapkan kalimat terakhirnya itu, mencoba menghiburku bahwa dia baik-baik saja. Tapi aku sangat mengenalnya, aku tahu hatinya sangat sedih saat ini.
“Call, jangan paksain diri kamu buat tersenyum kalau kamu lagi nggak pengen tersenyum. Keluarin semua perasaan sedih kamu. Kalau kamu pengen nangis, nangis aja, aku bakal tetep nemenin kamu kok.“ ujarku memecahkan keheningan.
“Tumben kamu ngomong banyak? Biasanya kan kamu kalau ngomong cuma seipet-seipet. Nara yang dingin ternyata bisa juga ya ngomong panjang gitu?“ ledeknya.
“Biarin.”
Dia tertawa, tapi lalu menunduk. Tubuhnya gemetar, wajahnya tertutup rambut hitamnya yang panjang. Aku tahu betul dia sedang menangis, menangis tanpa suara. Aku lalu membelai rambutnya dengan lembut.
Aku memang amat membencinya, tapi aku juga sangat menyayanginya.
***
Dengan segelas air dingin di tanganku, aku berjalan lambat-lambat menuju kamarku. Nanti sore aku akan kembali ke rumah sakit lagi, menjenguk Callista. Sekarang Kak Kevin, kakak laki-lakiku, menjaganya di
Aku tersenyum mengingat Kak Kevin. Dialah orang yang paling dekat denganku. Orang yang paling kusayang, daripada Callista. Hanya bersama Kak Kevinlah aku bisa menjadi diriku sendiri, bukan Nara yang dingin, aneh, dan pendiam seperti yang dikenal orang lain. Mungkin dialah satu-satunya orang yang menyayangiku, dan aku sangat berterimakasih padanya karena bersedia ’menyayangiku’.
“Mama nggak sanggup lihat Callista kayak gini terus, Pa.“
Aku menghentikan langkahku tepat di depan pintu kamar kedua orang tuaku. Suara ibuku seperti menangis.
“Mama sabar, ya.“ suara ayahku terdengar seperti menenangkan ibuku. “Kita pasti akan segera menemukan pendonor kornea buat Callista.“
“Tapi kapan, Pa? Sampai sekarang belum ada donor kornea buat anak kita.“ sahut Mama, masih menangis. “Mama nggak tega melihat Callista begini terus. Gimana kalau sampai dia tua tetap buta seperti itu?“
“Mama yang tabah, kita harus terus berdoa supaya ada donor kornea buat anak kita. Papa sebenarnya juga sedih melihat keadaan Callista, tapi kita harus optimis dan terus mendoakannya.”
“
Aku tersenyum mendengar semua itu, senyum pahit. Aku mulai berpikir, bagaimana jika aku ada di posisi Callista sekarang ini? Apa mereka juga akan menangis seperti itu untukku? Apa mereka juga akan menyebutku ’anak kita’ dengan penuh kasih sayang seperti tadi?
Hahaha...
Aku tertawa dalam hati. Jelas tidak mungkin. Itu pasti tidak akan terjadi.
Aku lalu mulai berjalan menuju kamarku, tempat dimana aku bisa bersembunyi dari orang lain, tempat dimana aku bisa mengeluarkan semua kepedihanku. Saat sudah sampai di kamarku, aku duduk di meja belajar. Mengambil buku dan menyobek secarik kertas lalu mulai menulis. Menuangkan semua perasaanku.
***
“Nah Callista, sekarang kamu boleh buka kedua mata kamu.” ujar dokter yang selama ini merawatnya.
Dengan perlahan dan sedikit takut, dia mulai membuka kedua matanya yang akhir-akhir ini tidak bisa melihat cahaya. Dia juga menghitung dalam hati sampai matanya terbuka.
Satu.
Dua.
Tiga.
Cahaya yang selama ini dirindukannya, sekarang terlihat lagi. Samar-samar dia bisa melihat orang-orang yang mengelilinginya. Semakin lama sosok mereka semakin jelas dan terlihat.
Mamanya, Papanya, Kak Kevin maupun dokter dan juga suster, semuanya terlihat jelas. Dia bisa melihat lagi!!
Callista ingin sekali berteriak saking senangnya. Akhirnya dia bisa melihat lagi, tidak terjebak di dalam kegelapan lagi. Dia sangat bersyukur karena akhirnya dia mendapatkan donor kornea. Terimakasih Tuhan…
“Ma, Pa?“ panggilnya dengan semangat, dia tidak bisa menahan kegembiraannya saat ini. “Callista bisa ngeliat lagi! Callista seneng banget, Ma, Pa. Akhirnya Callista bisa lihat Mama sama Papa lagi.“
Kedua orang tuanya tersenyum bahagia, begitu juga dokter dan suster. Tapi saat mata Callista berhenti ke arah kakaknya, wajah kakaknya terlihat datar bahkan nyaris dingin.
“Kak Kevin, Callista sekarang bisa ngeliat lagi.“ ujarnya sambil tersenyum.
Kak Kevin tersenyum, tapi senyumnya terlihat terlalu dipaksakan. “Ya, selamat kamu bisa ngeliat lagi.“
Callista bingung dengan sikap kakaknya, kenapa dia terlihat tidak terlalu senang hari ini? Apa dia sedang mempunyai masalah?
Ah, Callista tidak tahu, nanti saja menanyakannya pada Kak Kevin. Saat ini dia ingin sekali melihat kembarannya. Dia melihat sekelilingnya, tapi tidak ada Nara di sana.
“Lho, Nara masih ada di Solo? Kok dia nggak ke sini hari ini?“ tanyanya. Kata kedua orang tuanya, beberapa hari ini Nara pergi ke Solo mengunjungi kakek-nenek.
“Eh, Nara... Nara...“ Papa terlihat bingung menjawabnya.
“Dia belum pulang?“ tebak Callista. “Kok dia belum pulang, sih? Kan hari ini hari yang paling berharga buat Callista. Kenapa dia nggak ke sini?“
Tiba-tiba Kak Kevin keluar sambil membuka pintu dengan kasar. Callista kaget, apa dia salah omong tadi?
“Ma, Kak Kevin kenapa?” tanyanya.
Tapi ibunya tidak menjawab, lalu menutup mulutnya dan mulai menangis. Callista benar-benar bingung. Kenapa semuanya begitu aneh? Ada apa sebenarnya ini?
“Pa, tolong jelasin ke Callista ada apa sebenarnya ini.“ pinta Callista. Entah kenapa perasaannya terasa tidak enak.
“Callista,
“Me…meninggal?”
Papanya mengangguk sedih. “Dia sudah tidak ada.”
Tubuh Callista gemetar, airmatanya mulai menetes. “Kenapa?” tanya. Kenapa Nara begitu cepat meninggalkannya? Tidak! Ini pasti mimpi.
“
Callista tersentak. Tubuhnya terasa membeku di tempat, airmatanya semakin mengalir deras. “Ja-jadi...i-ini...Nara...?“ tanyanya terbata, tangannya menyentuh kedua matanya itu.
Papa mengangguk sedih. Mama menghambur memeluk Callista, menagis semakin keras. Callista hanya diam, menangis tanpa suara.
***
Callista berjalan menuju tempat Nara berbaring sekarang. Di sampingnya, Mama merangkul pundaknya dan berjalan bersama. Papa mengikuti di belakang mereka. Hari ini Callista meminta kedua orang tuanya untuk mengantarnya ke makam
Di dekat makam Nara, Kak Kevin berdiri menatap makam itu. Dia membalikkan badan saat tahu mereka datang. Dia tidak mengucapkan apapun, hanya memandang mereka hampa.
Callista lalu mendekat ke makam itu dan duduk sambil membelai nisannya. Di sana terukir nama saudaranya,“Cynara Ardhani“. “Nara, kenapa kamu pergi secepat ini? Kenapa? Kenapa kamu ninggalin aku?“ tanyanya sambil menatap makam di depannya itu. Airmatanya mulai mengalir tanpa bisa ditahannya. “
“Mungkin Kevin harus ngasih
Papa lalu menerima kertas itu. Membukanya dan mulai membacanya. Mama juga ikut membaca. Setelah beberapa detik membacanya, Mama menangis lagi. Papa juga terlihat terpukul, wajahnya sangat sedih seperti menyesali sesuatu.
“Maafin Mama, Nara… Maafin Mama… Mama juga sayang sama Nara, maafin Mama kalau selama ini bersikap seperti itu ke Nara.“ kata Mama di tengah isak tangisnya.
Papa merangkul istri tercintanya itu. “Papa juga menyesal, Papa juga sayang
“Pa, Callista pinjam kertas itu.” Callista menjulurkan tangannya, ayahnya memberikan kertas itu padanya. Callista melihat kertas itu, tulisan
Aku tahu aku tak bisa menandinginya. Tak bisa menjadi sepertinya.
Karena kutahu aku tak lebih baik darinya.
Tapi aku hanya ingin kasih sayang, merasakannya walaupun sedikit saja.
Aku ingin merasakan pelukan hangat dari Mama.
Aku ingin mendengarkan pujian bangga dari Papa.
Aku ingin merasakan semua itu. Merasakan sesuatu yang tak pernah kurasakan selama ini.
Apakah itu salah?
Kenapa selalu dia yang mendapatkan itu? Kenapa aku tidak?
Aku tahu aku berbeda dengannya.
Tapi apa aku tidak boleh merasakan sedikit saja kasih sayang orang tua?
Apakah aku memang tidak berhak mendapatkan itu?
Akhirnya Callista tahu perasaan yang dipendam Nara. Kepedihan yang lama dirasakannya sendirian. Callista merasa muak pada dirinya sendiri, dia yang membuat Nara merasakan perasaan sakit ini. Dia yang sudah memonopoli kasih sayang kedua oang tuanya. “Nara…maafin aku.” ujarnya lirih.
“Sekarang cuma ada kata menyesal, cuma ada kata maaf yang terlambat.” ujar Kak Kevin. “Dan itu semua nggak bisa mengembalikan Nara ke sini. Tapi Kevin tau betul, yang Nara pengen sekarang, seandainya dia masih ada, adalah melihat kalian semua bahagia. Jadi, Kevin mohon, jangan buat
Callista mengangguk. Mulai sekarang dia akan hidup lebih baik lagi dengan mata ini. Melihat masa depan, melihat dunia ini untuk
Hidup untuk bagian
***
