Aku terduduk di bawah pohon akasia itu, tempatku menyendiri dan menangis. Hanya aku sendiri, hanya aku... Suara daun yang jatuh satu per satu terdengar seperti musik yang mengalun pelan… lembut dan sedih. Menemaniku di tengah kesunyian yang menyelimutiku.
Pikiranku tak hentinya mengingat kejadian beberapa hari yang lalu. Kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuaku itu terpampang jelas di depan kedua mataku. Aku hanya bisa berdiri kaku melihat semua itu terjadi tanpa bisa melakukan apa-apa. Hanya menangis tanpa sedikit pun bisa mencegahnya. Rasanya menyakitkan sekali saat kejadian itu membayangiku. Setiap kali aku berusaha melupakannya, semakin jelas bayangan itu menghantuiku.
“Bunda... Papa...“ ucapku lirih sambil menatap langit malam yang dipenuhi bintang.
Orang bilang jika orang baik meninggal, mereka akan berubah menjadi bintang yang bersinar terang di langit. Dulu aku tak percaya semua itu, dan sekarang pun aku tahu itu hanya takhayul belaka. Tapi sejak kematian orang tuaku, setiap malam kupandangi bintang di langit, berusaha menemukan sosok Bunda dan Papa di sana. Aku tahu aku konyol, tapi aku hanya ingin berada di dekat mereka.
Kubiarkan airmata jatuh mengalir di kedua pipiku. Menangis di temani angin malam yang dingin.
“Kamu nangis?“ tanya suara seseorang tiba-tiba.
Aku mendongak, melihat orang itu. Cowok itu berperawakan tinggi, dan dari wajahnya sepertinya dia berasal dari Jepang atau Korea. Dia memandangku hati-hati.
“Kamu nangis?” tanyanya lagi.
Kuhapus airmataku cepat-cepat lalu menggelengkan kepala.
“Bohong.” ujarnya. “Jelas-jelas tadi aku lihat kamu nangis. Tuh airmata kamu masih kelihatan!“ tambahnya sambil menunjuk wajahku.
Aku lalu menunduk dan menghapus airmataku lagi.
Cowok itu tiba-tiba duduk di sampingku dan mengulurkan tangannya. “Aku Kyo Kaname, pindahan dari Jepang. Aku tinggal di dekat sini. Kamu juga tinggal di sini?“
Aku mengangguk tanpa membalas uluran tangannya. Tapi tangannya lalu meraih tanganku.
“Aku Kyo. Nama kamu siapa?” tanyanya.
“Trista.” jawabku pelan.
Cowok itu mengangguk. “Kamu pasti heran kenapa aku bisa lancar berbahasa Indonesia, kan?“
Aku mengangguk.
Dia tertawa renyah. “Aku blasteran Indonesia-Jepang. Ayahku dari Jepang dan ibuku dari Indonesia. Dari kecil ibuku juga mengajarkan aku berbahasa Indonesia juga, jadi aku mahir berbahasa Indonesia.“
“Oh...“
“Aku sudah cerita tentang diriku. Sekarang giliran kamu yang cerita.“ ujarnya. “Mm, kenapa kamu nangis?“
Aku terdiam lagi. Sedikit ragu akan bercerita pada cowok itu atau tidak. “Ee… aku…”
“Ya?”
Kulirik cowok di sampingku itu. Dia menatapku dengan seksama, menungguku berbicara. Aku lalu menceritakan semuanya padanya. Entah kenapa setiap kata yang kuucapkan keluar dengan lancar dari mulutku saat berbicara dengannya. Wajahnya juga terlihat serius mendengarkanku. Aku merasa seperti sudah mengenalnya sejak lama. Aku heran dengan diriku sendiri mengapa aku bisa dengan mudah membicarakan tentang kehidupanku pada cowok ini. Padahal selama ini aku adalah sosok yang tertutup dengan orang lain, terutama dengan orang asing.
“I’m sorry.“ ujarnya setelah aku selesai bercerita. “Aku turut berduka cita.”
Aku tersenyum lemah. “Makasih.“
Tiba-tiba kedua tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya, membuatku sedikit tersentak. Tapi genggamannya terasa begitu hangat, aku merasa sangat nyaman saat tangan itu memegang tanganku.
“Pasti ini berat buat kamu, ditinggalkan oleh orang-orang yang sangat kamu sayang.“ ujarnya menatapku sambil tetap menggenggam tanganku. “Tapi kamu pasti bisa melewati semua ini. Karena kamu nggak sendirian, pasti masih banyak yang sayang sama kamu dan peduli sama kamu. Kamu nggak perlu sedih terus-menerus. Aku yakin orang tua kamu juga pasti sedih kalau lihat kamu nangis terus.“
Aku menatap matanya yang balas menatapku. Bagaimana bisa perasaanku menjadi tenang saat mendengarnya berbicara? Kenapa kata-katanya yang begitu sederhana bisa membuatku merasa lebih ringan? Beban yang ada di hatiku seperti melayang jauh dari dalam diriku. “Mu...mungkin kamu benar... Makasih.“ ucapku sambil tersenyum.
“Aku juga akan ada saat kamu butuh seseorang di samping kamu.“ ujarnya lembut. “Mm, mungkin agak konyol bilang seperti itu padahal kita baru pertama kali bertemu.“ gumamnya.
Aku tertawa mendengar gumamannya. Tapi kata-katanya itu sangat menenangkanku. “Makasih.“ balasku dengan tulus.
Dia lalu tersenyum padaku, senyum lembut yang akan selalu menemaniku di tengah kesepianku.
***
Aku teringat kembali kejadian tiga tahun lalu, di malam pertama kali aku bertemu dengannya di bawah pohon akasia di samping rumahku. Malam di mana dia datang di tengah kesunyian yang kurasakan dan menggenggam tanganku dengan hangat. Mengusir semua kesedihanku.
Masih sangat kuingat saat dia mengatakan akan selalu ada untukku. Dan selama tiga tahun terakhir ini, dia selalu ada untukku, selalu ada di sampingku. Menggenggam erat tanganku. Menjagaku dan melindungiku. Berkatnya aku keluar dari kesepian yang mengekangku.
Dan aku tahu satu hal yang sangat penting.
Aku menyayanginya. Sangat menyayanginya.
Tapi dia lalu menghilang, meninggalkanku tanpa memberitahuku ke mana dia pergi. Meninggalkanku terperangkap di tengah kesepianku lagi.
Sudah beberapa minggu dia hilang tanpa kabar apapun. Saat aku datang ke rumahnya yang berada tidak terlalu jauh dari rumahku, dia tidak ada di sana. Bahkan keluarganya pun juga tidak ada. Aku juga sudah mencarinya ke mana-mana, tapi aku tak kunjung menemukannya. Setiap aku berusaha menghubunginya, tetap saja tidak ada hasilnya. Aku tidak tahu lagi harus mencarinya ke mana lagi.
Rasanya sakit sekali setiap pikiran bahwa aku kehilangan orang yang kusayangi lagi terlintas di otakku. Aku tidak mau itu terjadi lagi. Aku tidak mau kehilangan Kyo. Mungkin aku tidak sanggup untuk kehilangannya. Dia sudah seperti bagian dari hidupku. Tapi kini bagian itu telah hilang.
“Trista.“ panggil seseorang di belakangku, suara kakekku. Sejak kematian kedua orangtuaku, kakek dan nenekku tinggal di sini bersamaku.
Aku menutup album yang penuh dengan foto Kyo dan menoleh. “Ya, Kek?“
Kakek masuk ke kamarku, menghampiriku yang duduk di dekat jendela. “Kamu lagi ngapain? Kenapa nggak ke bawah? Nenek buatin kue kesukaan kamu lho.“
Aku tersenyum. “Nggak ngapa-ngapain kok, Kek. Trista cuma duduk-duduk santai aja.“ jawabku.
Kakek melihat album foto yang kupegang. “Udah dapat kabar dari Kyo?“ tanyanya. Karena Kyo selalu datang ke rumahku, kakek dan nenekku akrab dengannya.
Aku menggeleng. “Belum.“
“Trista, kakek tau masalah ini membuat kamu sedih. Tapi jangan buat diri kamu seperti ini karena hal ini. Kamu seperti orang linglung, sering berdiam diri seperti waktu kejadian tiga tahun lalu. Kakek sama nenek cemas lihat kamu kayak gini.“ ujar Kakek khawatir.
Aku tahu aku sudah membuat kakek dan nenek cemas. Tapi aku tak tahu harus bagaimana.
“Pasti Kyo akan kembali lagi. Dia sayang sekali sama kamu, dan kamu harus yakin kalau dia pasti kembali.“
Aku memalingkan wajahku ke jendela di samping kiriku. Aku ingin sekali percaya seperti apa yang dikatakan Kakek, tapi aku sulit mempercayainya sepenuhnya. “Semoga aja begitu.“ jawabku, berharap itu akan terjadi.
Kakek lalu keluar dan menuju ke bawah. Aku membuka kembali album itu, melihat wajah-wajah Kyo. Membelai fotonya dengan lembut. Mengenang hari-hari saat kami bersama.
Apa dia tahu kalau aku sangat merindukannya? Apakah dia juga merasakan hal yang sama denganku?
Entahlah...
***
“Nenek pergi ke toilet sebentar, ya! Kamu tunggu di sini.“ perintah nenek.
“Ya, Nek.“
Nenek berjalan meninggalkanku di sini. Kupandangi punggungnya yang semakin menjauh. Lalu beralih melihat sekelilingku. Begitu banyak orang yang datang ke mal ini, mereka berjalan hilir mudik tanpa lelah. Mataku menyusuri sekeliling. Dan tepat saat itu juga pandanganku tertumbuk pada sosok itu. Sosok yang begitu kukenal.
Kyo.
Ya. Itu pasti dia. Berdiri cukup jauh dariku di ekskalator yang menuju ke lantai dasar.
Tanpa memikirkan apa pun juga, aku langsung berlari ke arahnya. Berlari secepat yang aku bisa sampai aku bisa meraihnya lagi.
“Kyo!“ teriakku memanggilnya tapi dia tidak menoleh. “Kyo! Berhenti! Berhenti!”
Aku terus berlari mengejarnya. Berteriak memanggilnya, tapi dia tetap tidak mendengarku. “Kyo!“ panggilku lagi. Sampai di ekskalator yang tadi, dan menuruninya.
Kyo sudah ada cukup jauh di bawah. Saat aku sampai di dasar lantai, aku mulai berlari lagi. Berkali-kali menabrak orang, tapi aku tetap berlari dan tidak memedulikan lainnya.
“Kyo!“ teriakku lagi, tapi dia tidak mendengarku.
Bruuk!!
Aku terjatuh membentur lantai yang sangat keras itu. Bisa kurasakan lututku terluka karena terlalu kencangnya aku berlari. Semua orang memandangku heran. Tapi aku tidak peduli. Yang ada di otakku saat ini hanya Kyo.
Aku berusaha berdiri, tidak memedulikan rasa nyeri di lututku. Kucoba berlari tapi terjatuh lagi. Saat aku berdiri lagi dan mencari sosok Kyo, dia sudah tidak ada. Dia lenyap lagi. Aku tidak berhasil meraihnya.
“Kyo... Kyo.... Kyo....“ airmataku menetes tanpa bisa kutahan.
Aku kehilangannya lagi... Kehilangannya lagi...
“Kyo....“ isakku.
***
Kulangkahkan kakiku menuju pohon akasia di samping rumahku. Aku ingin melihat bintang malam ini, mungkin saja itu bisa sedikit menenangkan hatiku.
Saat aku tiba di sana, aku melihat seseorang duduk bersandar di bawah pohon. Perlahan aku mulai mendekatinya, seperti ada tarikan untuk melihatnya. Dan sosok itu terlihat lagi olehku. Sosok yang kurindukan...sosoknya...ada di sana.
“K...kyo?“ panggilku.
Sosok itu menoleh ke arahku. Wajahnya sedikit tampak letih, seperti ada beban yang dipikulnya. Dia tersenyum lemah padaku. “Trista...“
Tubuhku gemetar mendengar suaranya lagi. Suara yang kurindukan kini terdengar lagi. Aku mencoba maju, melangkahkan kakiku ke arahnya.
Dia lalu bangkit dari duduknya dan kami berdiri berhadapan.
“Kyo? Ini benar Kyo?“ tanyaku, suaraku sedikit bergetar.
Dia mengangguk. “Aku pulang.“ balasnya sambil tersenyum.
Tubuhku semakin gemetar, airmataku mulai mengalir. Kututup mulutku, berusaha menahan tangisku. Tapi itu malah semakin membuat tubuhku gemetar.
“Trista...“
“Kenapa menghilang? Kenapa?“ tuntutku di tengah isak tangisku yang tertahan.
“Aku...“
“Kenapa kamu pergi? Apa kamu tau gimana perasaanku waktu kamu menghilang?“ tanyaku.
“Trista, maaf...“ ujarnya, tangannya berusaha meraih tanganku tapi aku mengelaknya.
“Aku takut kehilangan kamu lagi... Aku takut...“ isakku lirih. “Aku... Aku nggak mau lagi kehilangan orang yang kusayang lagi...“
“Maaf... Maaf...“ ujarnya sambil menunduk. “Aku pergi tanpa bilang apa pun ke kamu karena... karena aku belum siap bilang semuanya ke kamu. Aku belum siap.“
“Apa maksud kamu?“
Dia menatap wajahku lekat-lekat. “Aku dikirim ayahku ke Jepang untuk tinggal di sana dengan kakek-nenekku.“
“Kenapa?“
Dia menghela napasnya. “Kedua orangtuaku bercerai.“
Aku tersentak mendengarnya. Kutatap wajahnya, dagunya mengeras dan tangannya mengepal. “Cerai?“
Dia mengangguk kaku. Raut wajahnya mengeras, tapi matanya terlihat hampa.
“Kenapa kamu nggak bilang ke aku?“ tanyaku. Aku bingung padanya, kenapa dia tidak bercerita tentang ini semua padaku? Apa ini yang dimaksudnya “belum siap“ tadi? Tapi kenapa?
“Waktu itu aku belum siap cerita ini ke kamu. Maafin aku...“
“Kyo...“
“Orangtuaku sekarang sedang dalam proses perceraian. Ayahku mengirimku ke Jepang untuk tinggal di sana, tapi sekarang aku putuskan buat kembali ke sini. Sebenarnya aku pengen bilang ke kamu dari waktu itu, tapi aku belum siap. Aku belum siap dengan semua keadaan ini. Jujur, aku belum siap lihat keluargaku harus terpecah seperti ini.“ ceritanya, kedua tangannya masih tetap mengepal. Wajahnya seperti berusaha keras menahan kepedihannya.
Hatiku terasa pedih melihatnya seperti ini, melihatnya menahan kesedihannya sendiri. Aku meraih kedua tangannya yang mengepal dan menggenggamnya, sama seperti yang dilakukannya padaku saat pertama kali bertemu. “Kyo, kamu tau aku pasti akan selalu ngedengerin semua kesedihan kamu. Jadi tolong jangan simpan masalah kamu sendiri, jangan menahan semua ini sendirian. Aku nggak mau ngelihat kamu menanggung perasaan sakit ini sendirian.“ ujarku. “Mungkin ini berat buat kamu, tapi mungkin ini yang terbaik buat orangtua kamu. Dan kamu jangan berpikir dengan adanya perceraian ini kamu kehilangan keluarga kamu. Mereka tetap jadi orangtua kamu yang sayang sama kamu, dan mereka tetap keluarga kamu. Kamu nggak akan sendirian.“
Dia mengangguk dan menatapku. “Makasih.“
Aku semakin menggenggam tangan dengan erat dan membalas tatapannya. “Kamu masih ingat waktu pertama kali kita ketemu? Waktu itu kamu bilang kamu akan selalu ada buat aku. Aku juga akan selalu ada buat kamu, menggenggam tangan kamu dan tersenyum buat kamu.“
Salah satu tangannya memegang pipiku dengan lembut, tangan satunya masih dalam genggamanku. “Aku bersyukur bisa ketemu sama kamu.“ ujarnya sambil tersenyum. “Makasih buat semuanya.“
“Aku yang harus berterimakasih sama kamu karena selama ini kamulah yang selalu ada buat aku. Karena kamu, aku bisa tersenyum dan nggak kesepian lagi.“ ucapku. Aku juga sangat bersyukur karena dia hadir dalam hidupku dan meraih tanganku, mengeluarkanku dari mimpi burukku.
“Aku sayang sama kamu, sayang banget...“
Aku mengangguk dan tersenyum padanya. “Aku juga.“
Mulai dari detik ini, aku akan selalu ada untuknya, begitupun sebaliknya. Tanganku akan selalu menggenggamnya. Bersama-sama bergandengan tangan dan menghadapi hari esok yang terbentang luas.
Hanya bersamanya...
***